top of page

Yose Ferlianto - Eben-Haezer

Catatan Khotbah: “Eben-Haezer”. Ditulis ulang dari sharing Bp. Pdt. Yose Ferlianto di Ibadah Doa Pagi di MDC Graha Pemulihan, pada Tgl. 8 Februari 2025.


Eben-Haezer = Stone of Help.

Setiap orang percaya pasti memiliki perjalanan hidup kerohaniannya bersama dengan Tuhan. Setiap kali melalui perjalanan di dalam hidup ini, kita selalu menjumpai ada beberapa momen Eben-Haezer yang di mana kata ini secara literal memiliki arti Stone of Help / Batu Pertolongan.


Di setiap perjalanan yang dilalui, kita juga pasti akan selalu meletakkan “mind stone / batu penanda” sebagai pengingat di mana di berbagai momen tersebut, ada penyertaan Tuhan atas hidup kita.


Di zaman dahulu, stone of help berfungsi sebagai penanda arah dan jalan untuk membantu seseorang agar tidak tersesat, di dalam rute perjalanan yang akan / sedang dilaluinya.


Hal ini juga bisa kita temui di dalam perjalanan sejarah umat manusia. Ketika menemukan sebuah tempat / daerah yang baru, maka kita akan mendirikan tugu / batu peringatan sebagai penunjuk arah dan juga penanda bagi orang-orang yang nantinya akan melewati jalan tersebut, dan juga sebagai penunjuk bahwa pernah ada seseorang yang datang terlebih dahulu di tempat tersebut.


Dalam hidup ini, ada beberapa momen di mana pertolongan Tuhan terasa begitu nyata dan kita merayakan kesetiaan-Nya dan mengingat-Nya.


Misalnya, ketika tiba di penghujung akhir tahun 2024 yang lalu, di dalam keluarga inti biasanya kita berkumpul dan berdoa untuk meminta tuntunan Tuhan di tahun yang baru, serta berbagi kisah tentang penyertaan Tuhan yang setia di dalam hidup. Pastinya ada momen-momen di mana Tuhan memberikan tuntunan dan penyertaan, serta kemurahan-Nya di sepanjang hidup kita.


Di dalam kesempatan tersebut, kita juga dapat bercerita tentang bagaimana kita menaati setiap perintah-Nya dan berjalan bersama dengan tuntunan kasih dan hikmat-Nya, serta kita juga memberi “batu penanda” di momen-momen tersebut untuk mengingat kebaikan-Nya.


Melaluinya kita dapat belajar bahwa,


Di dalam perjalanan di hidup kita, ada banyak momen di mana Tuhan memberikan pertolongan-Nya di dalam hidup ini. Oleh karena itu, jangan pernah lupakan segala kebaikan-Nya!


Selain itu kita juga dapat belajar, sangatlah penting bagi kita untuk terus mengingat setiap kebaikan Tuhan sebagai mind stone / pengingat di dalam hidup kita. Apa pun bentuknya, baik kita yang pernah ditolong Tuhan, ataupun pernah mengalami Tuhan secara pribadi, di dalam kehidupan ini.


2 Momen Penting.


Di dalam Alkitab mencatat ada 2 momen penting, mengenai istilah Eben-Haezer ini.


Pertama. Momen Kekalahan Besar, yang di mana tercatat di dalam 1 Samuel 4:1-11.


Di pasal tersebut dicatat ada kekalahan besar ketika bangsa Israel menghadapi orang-orang Filistin. Kekalahan pertama dimulai dari jatuhnya korban empat ribu orang Israel yang gugur di medan pertempuran (ayat 2). Kekalahan kedua, ada tiga puluh ribu orang pasukan berjalan kaki dari Israel yang gugur (ayat 10). Tabut Allah dirampas orang Filistin, Hofni dan Pinehas anak iman Eli juga tewas (ayat 11,17). Melalui semuanya ini dikatakan bahwa telah lenyap kemuliaan dari Israel, sebab tabut Allah telah dirampas (ayat 22).


Di momen yang pertama ini terjadi banyak kehilangan, kegagalan, depresi, tekanan yang luar biasa, dan juga berbagai hal lainnya.


Kedua. Momen Kemenangan, yang di mana tercatat di dalam 1 Samuel 7:3-14.


Di pasal tersebut dicatat Filistin dan raja-raja kotanya dikalahkan (ayat 7,11), kota-kota yang direbut Filistin diambil kembali oleh Israel (ayat 14), Filistin kalah total dari Israel dan tunduk selamanya di bawah kepemimpinan nabi Samuel (ayat 13).


Di momen kedua ini terjadi kemenangan, berkat, kemuliaan, kemurahan Tuhan, turning point / titik balik, tuntunan Tuhan, dan berbagai hal lainnya.


Ketika bangsa Israel berada di momen kekalahan besar.. bisa jadi ketika mendengar nama Eben-Haezer, bangsa Israel mengalami trauma.


Mengapa? Karena di tempat yang secara literal memiliki arti Stone of Help / Batu Pertolongan, mereka justru mengalami dua kekalahan besar. Bahkan ketika mereka sudah mengangkat tabut Allah di Silo, hal ini tidak membawa dampak apa-apa, malah membawa kekalahan yang jauh lebih besar lagi dari pihak Israel dengan gugurnya tiga puluh ribu orang pasukan berjalan kaki (4:10).


Dan yang menjadi pertanyaannya,


“Apakah kita juga pernah diizinkan berada di dalam ‘momen kekalahan yang besar’ ini?”


Mungkin tak sedikit dari antara kita yang bercerita bahwa selama ini kita sudah sangat setia di dalam melayani Tuhan, kita sudah terlibat super aktif di dalam banyak kegiatan rohani.. tetapi kita tetap saja diizinkan untuk mengalami momen kekalahan demi kekalahan, di dalam kehidupan ini.


Bahkan hal ini bisa juga menjadi pertanyaan di dalam hati bangsa Israel pada saat itu,


“Tabut Allah itu sudah bersama kita, tetapi mengapa kita tetap mengalami kekalahan?”


Pertobatan Israel.


Di dalam 1 Samuel 7:4-6 dicatat pada kita tentang pertobatan bangsa Israel, dan mereka memohon kemurahan-Nya,


“Kemudian orang-orang Israel menjauhkan para Baal dan para Asytoret dan beribadah hanya kepada TUHAN. Lalu berkatalah Samuel: “Kumpulkanlah segenap orang Israel ke Mizpa; maka aku akan berdoa untuk kamu kepada TUHAN.” Setelah berkumpul di Mizpa, mereka menimba air dan mencurahkannya di hadapan TUHAN. Mereka juga berpuasa pada hari itu dan berkata di sana: “Kami telah berdosa kepada TUHAN.” Dan Samuel menghakimi orang Israel di Mizpa.”


Bangsa Israel sepertinya sudah menyadari bahwa selama ini mereka sudah tidak menghargai lagi kehadiran-Nya, yang pada saat itu direpresentasikan melalui tabut Allah. Selama ini mereka hanya menganggap tabut Allah sebagai sebuah “jimat” yang harus dibawa, agar mereka dapat mengalami kemenangan di setiap peperangan yang sedang mereka lalui.


Bangsa Israel tidak lagi memiliki kerinduan untuk dapat mengenal lebih dalam, serta mau memahami akan apa yang menjadi kehendak dari Sang Pencipta. Mereka hanya menganggap semua tentang Dia dan tabut Allah, hanya sebatas “ritual keagamaan yang harus dilalui” supaya mendapat kemenangan di medan peperangan.


Tetapi saat bangsa Israel bertobat, mereka mengalami titik balik di dalam kehidupan. Ketika mereka mau mengakui dosa-dosanya, Tuhan itu memberi kemenangan besar bagi Israel.


Diceritakan di ayat 7:7, raja-raja kota orang Filistin itu maju dan mendatangi Israel. Mereka sangat yakin dapat mengalahkan bangsa Israel untuk yang kesekian kalinya. Mereka yakin momen kekalahan pertama dan kedua yang sudah dialami di Eben-Haezer di pasal 4, pasti masih menyisakan trauma yang cukup mendalam di hati bangsa Israel.


Tetapi orang-orang Filistin tidak mengetahui, bangsa Israel kini sudah bertobat dan memohon kemurahan Allah. Di ayat 10b-11 dikatakan,


“Tetapi pada hari itu TUHAN mengguntur dengan bunyi yang hebat ke atas orang Filistin dan mengacaukan mereka, sehingga mereka terpukul kalah oleh orang Israel. Keluarlah orang-orang Israel dari Mizpa, mengejar orang Filistin itu dan memukul mereka kalah sampai hilir Bet-Kar.”


Eben-Haezer = Sampai di sini TUHAN menolong kita.


Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: “Sampai di sini TUHAN menolong kita.” (ayat 12).


Samuel meredefinisi kembali apa arti dari stone of help / batu penolong, yang sebelumnya sudah menjadi momen kekalahan dari bangsa Israel. Samuel sekarang mengubah arti namanya menjadi, sampai di sini Tuhan menolong kita. Ada makna yang berubah di dalam kata Eben-Haezer.


Di dalam hidup kita, bisa jadi ada beberapa momen kekalahan dan kegagalan. Tetapi pada saat kita mau bertobat dan benar-benar berbalik kepada Tuhan, maka Dia masih sanggup untuk mengubahnya menjadi momen kemenangan di dalam hidup.


Karena itu milikilah iman bahwa tahun 2025 menjadi tahun kemenangan bagi setiap kita. Tahun ini menjadi momen Eben-Haezer, di mana kita mendapat kemenangan, berkat Tuhan yang terbaik, kemuliaan dan kemurahan dari Tuhan, turning point / titik balik, tuntunan Tuhan, dan banyak hal baik yang akan diberikan-Nya.


Di momen kemenangan yang dicatat dalam 1 Samuel 7:3-14, bangsa Israel sudah tidak lagi mengingat Eben-Haezer sebagai momen stone of help, yang di mana mereka telah mengalami 2 kali kekalahan secara berturut-turut. Kini mereka mengingat pertolongan dan kesetiaan Tuhan di hidup mereka sebagai momen Eben-Haezer yang baru, sampai di sini Tuhan menolong kita.


Mereka melupakan segala trauma kekalahan yang pernah terjadi di dalam hidup mereka. Di tempat yang sama di mana mereka pernah mengalami kekalahan.. di tempat yang sama itulah, Tuhan melakukan pembalikan keadaan.


Mungkin ada beberapa momen yang telah menjadi trauma di dalam hidup, di mana keadaan dan di tempat tersebut kita telah mengalami banyak kegagalan. Tetapi pesan hari ini adalah,


Bangkitlah kembali dari keadaan tersebut. Tuhan itu masih bekerja, dan Dia memberi pengharapan yang baru di dalam hidup kita 🙂


Tanda Kehadiran Tuhan.


Momen kekalahan dapat diubah menjadi momen kemenangan, asalkan kita mau sungguh-sungguh bertobat dan kembali kepada-Nya dengan sepenuh hati. Itulah sebabnya, kehadiran Tuhan tidak ditandai dengan simbol-simbol religius tertentu, sama seperti bangsa Israel yang pada saat itu menganggap bahwa dengan adanya “tabut Tuhan” maka pasti ada kemenangan di setiap peperangan.


Hal ini telah dibuktikan justru pada saat mereka membawa tabut Tuhan, saat itu mereka malah mengalami kekalahan yang jauh lebih buruk.


Tetapi kehadiran Tuhan ditandai dengan pertobatan sejati, ada iman dan ketaatan, serta kerelaan hati kita yang mau untuk belajar taat dan melakukan setiap kehendak-Nya, yang tertulis di dalam firman-Nya / Alkitab. Kita juga “menandai” beberapa momen di hidup ini, untuk mengingat segala kebaikan dan pertolongan-Nya yang setia.


Kemenangan terjadi pada saat kita mau bertobat, dan menyerahkan diri seutuhnya pada Tuhan.


Ketika Samuel memaknai kembali “sampai di sini Tuhan menolong kita”, hal ini tidak menandakan adanya batas waktu pertolongan dari Tuhan. Kata “sampai di sini” bukan dimaknai sebagai akhir dari sebuah perjalanan, tetapi menandai perjalanan yang akan dilanjutkan di masa depan.


Samuel memberikan mind stone / batu peringatan, untuk menandai setiap kali bangsa Israel melihat batu ini, mereka kembali diingatkan bahwa Tuhan sudah melakukan pekerjaan besar, yang di mana hasilnya adalah,


Bangsa Filistin sudah tidak dapat lagi mengalahkan bangsa Israel, selama Samuel masih hidup.


Batu ini sebagai penanda bahwa Tuhan akan melanjutkan pekerjaan-Nya.


Oleh karena itu setiap kali kita mengalami pertolongan Tuhan, marilah menandai dan mengingat segala kebaikan-Nya. Kita juga bisa menceritakan kebaikan-Nya pada sesama sebagai kesaksian yang menguatkan iman mereka, menjadi momen Eben-Haezer di mana Tuhan yang setia pernah menolong kita dan juga sesama.


“Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.” (Yeremia 31:3).


Tetaplah kuat di dalam Tuhan!


Jadikan setiap momen kegagalan di masa lampau diubah menjadi momen kemenangan dan keberanian untuk kita dapat menghadapi masa depan, karena ada penyertaan Tuhan yang setia di dalam hidup umat-Nya.


“Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:20b).

Kesetiaan Tuhan di masa lalu mengingatkan dan menguatkan kita bahwa, Dia tidak pernah berubah. Di masa yang akan datang, Dia juga tetap setia memelihara dan menjagai hidup kita.


Apa pun keadaan bisa diizinkan untuk kita alami di dalam hidup ini. Tetapi yang tidak boleh kita lupakan adalah adanya penyertaan Allah Imanuel yang setia, di dalam setiap musim di hidup kita.


Amin. Tuhan Yesus memberkati..

Comments


GKPB Masa Depan Cerah Surabaya

©2025 by GKPB Masa Depan Cerah Surabaya

bottom of page