Markus Simanjuntak - Dasar yang Teguh: Dewasa di dalam Kristus
- mdcsbysystem
- 10 Agu 2024
- 18 menit membaca
Catatan Khotbah: Dasar yang Teguh: Dewasa di dalam Kristus. Ditulis ulang dari sharing khotbah Bp. Pdt. Markus Simanjuntak di Ibadah Minggu di MDC Graha Pemulihan, pada Tgl. 4 Agustus 2024.
Seseorang dapat dikatakan mencapai kedewasaan bukan dilihat dari ketika dirinya mencapai usia tua secara kronologis saja, tetapi pada seberapa banyak tanggung jawab yang dipikulnya, pertumbuhan yang telah dicapai, seberapa banyak dampak dan pengaruh yang dapat dirinya berikan dalam hidup orang-orang di sekitar, serta seberapa banyak beban yang dapat dipikul oleh dirinya.
“Dialah yang kami beritakan, apabila tiap-tiap orang kami nasihati (peringatkan) dan tiap-tiap orang kami ajari dalam segala hikmat, untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus. Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku.” (Kolose 1:28-29).
Kitab Kolose adalah salah satu surat yang ditulis oleh Rasul Paulus di dalam penjara. Paulus memang tidak pernah secara langsung merintis gereja di kota Kolose, tetapi Paulus berkhotbah di sebuah tempat, lalu ada seseorang yang bernama Epafras yang mendengar khotbahnya dan bertobat, lalu dirinya pulang dan hatinya berkobar-kobar untuk memberitakan Injil Kristus bagi orang-orang di Kolose. Melalui pemberitaan Epafras, banyak orang di tersebut menjadi bertobat, dan tidak seberapa jauh dari kota itu, ada Filemon yang memimpin jemaat Tuhan di dalam rumahnya.
Filemon sendiri memiliki seorang budak yang bernama Onesimus yang telah mencuri suatu barang dari Filemon, lalu Onesimus melarikan diri, di Roma tertangkap, masuk penjara, bertemu Paulus serta dimuridkan, dan memberitakan Injil bersama-sama Paulus di dalam penjara. Setelah masa hukuman penjaranya usai, Onesimus disuruh pulang oleh Paulus untuk dapat berdamai dengan Filemon. Bersama pulangnya Onesimus, Paulus menitipkan surat untuk jemaat di Kolose.
Kata utama dari surat Kolose adalah Keutamaan Kristus, preeminence of Christ, di mana Kristus menjadi yang sulung dan utama di dalam hidup kita. Ada juga kata prototokos, di mana Kristus adalah Anak Manusia pertama yang melampaui segala sesuatu. Tidak ada satupun yang dapat dibandingkan dengan Pribadi Kristus, bahkan termasuk berbagai patung, dewa-dewi dan berbagai ajarannya, berbagai gelar yang telah kita raih, serta berbagai ajaran dan pengetahuan filsafat yang selama ini kita bangga-banggakan.
Pada waktu itu Paulus dan gereja Tuhan di Kolose menghadapi dua kelompok besar yang menjadi kubu dan penghalang di dalam pemberitaan Injil.
Pertama ada kubu filsafat dari Yunani yang meninggikan berbagai pengajaran, ada gnostisisme yakni pengetahuan tentang berbagai ilmu dan rahasia yang berkanjang pada penglihatan, yang di mana seseorang merasa ketika mendapat pengalaman spiritual dan memasuki alam mistis tertentu, maka dirinya akan dianggap tinggi tingkat kerohaniannya oleh sesamanya.
(Menurut sumber Wikipedia, gerakan ini mencampurkan berbagai ajaran agama, yang biasanya pada intinya mengajarkan bahwa manusia pada dasarnya adalah jiwa yang terperangkap di dalam alam semesta, yang diciptakan oleh tuhan yang tidak sempurna. Gnostisisme berasal dari kata bahasa Yunani gnosis yang berarti “mengetahui.” Para Gnostik dikatakan bahwa mereka memiliki pengetahuan yang lebih tinggi, bukan dari Alkitab, tetapi diperoleh melalui alam mistis lain yang lebih tinggi.)
Selain itu, seseorang di kubu ini diwajibkan untuk banyak belajar filsafat, dan sampai di tahap level tertentu, baru dianggap mencapai kesempurnaan.
Kubu kedua adalah kelompok orang-orang Ibrani, para tua-tua yang mengajarkan ajaran nenek moyang, berbagai tradisi Ibrani yang terkadang di luar dari kebenaran firman Tuhan, memelihara hari tertentu supaya memiliki hidup yang lebih suci, tidak boleh memakan makanan tertentu.. dan melalui semuanya itu dipercaya bahwa dirinya bisa mencapai tahap yang lebih sempurna.
Tetapi Rasul Paulus mengajar di dalam Kolose 1:28 bahwa Kristus menjadi yang terutama di dalam hidup kita. Dia adalah Kristus yang Paulus beritakan, bukan sekadar doktrin, bukan pula sekadar mechanical religion atau seperangkat peraturan yang dapat membuat hidup kita menjadi tertib dan tidak ada kekacauan, bukan pula sekadar perbuatan baik. Dengan anggapan hanya sebatas menjalankan agama, banyak orang menganggap kalau dirinya sudah cukup melakukan berbagai peraturan, ritual, dan norma.. dan semuanya itu dianggap dapat membuat dirinya bisa mencapai kekudusan dan kesucian hidup.
Sehingga tanpa disadari, Kekristenan yang kita dengar dan jalani hanyalah Kekristenan yang bersifat agamawi saja. Tetapi Paulus memberitakan Kristus sebagai seorang Pribadi, bukan sekadar teknik. Untuk apa kita memiliki banyak doktrin yang hebat, kalau kita tidak mengenal dan memiliki Pribadi Kristus di dalam hati kita?
Lirik lagu “Yesus adalah Kekasih Jiwaku,” tidak mungkin dapat dinyanyikan dengan penuh penghayatan oleh orang-orang yang selama ini hanya sekadar tahu tentang Yesus, tetapi tidak pernah mengenal-Nya secara pribadi.
Teologi tanpa adanya doksologi / pengagungan kepada Allah yang merupakan bentuk ekspresi penyembahan kita kepada-Nya.. akan berakhir dengan dry religion / agama yang kering dan membosankan, yang membuat kita semakin seperti orang Farisi, bentuk luarnya bisa saja terlihat bagus tetapi dalamnya kosong dan busuk.
Tetapi ekspresi penyembahan kepada Allah tanpa memiliki pemahaman dan pengenalan yang benar akan Dia, hanya berakhir menjadi bentuk penyembahan berhala. Apa maksudnya? Karena tanpa pengenalan yang benar akan siapa Pribadi Allah, kita hanya menyembah emosi perasaan dengan menganggap bahwa Roh Kudus masih belum hadir di setiap pertemuan ibadah (maupun di setiap aspek di dalam hidup kita), karena kita tidak merasakan apa-apa atau bulu kuduk kita masih belum berdiri. Sehingga penyembahan kita hanya didasarkan pada perasaaan kita saja.
Doksologi / pengagungan / pemujaan pada Allah itu penting bagi gereja Tuhan, tetapi tanpa pemahaman firman yang baik dan benar, maka hanya berakhir sebagai penyembahan berhala.
Person, not technique. Person, more than doctrine.
Inilah yang Tuhan mau, dan Paulus mengatakan di dalam Kolose 1:28 bahwa Dialah pribadi itu, Kristus-lah yang ada di dalam kita, yang diberitakan dan dideklarasikan Paulus. Kata “deklarasi” memiliki arti suka atau tidak suka, setuju atau tidak, hal itulah yang akan tetap diberitakan Paulus.
Identitas dan Tujuan Gereja.
Pertama. Menyampaikan kebenaran firman Allah dalam kepenuhan-Nya, dan memberitahukan kekayaan hikmat-Nya yang agung.
Kristus adalah hikmat Allah yang kekal, dan berbagai ajaran filsafat di dunia ini tidak akan pernah dapat menolong kita untuk dapat mendekat dan lebih karib dengan Allah. Doktrin kalau tidak disertai dengan sikap yang mau mendekat pada Allah, maka akan berakhir menjadi kering, dan bahkan menjadi seperti orang Farisi, menjadi self-righteous person / seseorang yang suka mencari pembenaran dirinya sendiri.
Beritakan serta hadirkan Kristus dan firman Tuhan, di manapun kita berada. Gereja Tuhan harus rutin untuk terus berakar / rooted di dalam kebenaran firman Tuhan / Alkitab.
Kedua. Memberitakan Kristus serta menasihati (memperingatkan) dan mengajar dalam segala hikmat, sehingga orang-orang percaya tetap teguh di dalam iman mereka.
Mengapa gereja, nabi, dan berbagai ajaran palsu dan yang menyimpang di dalam Kekristenan mencapai jumlah pengikut yang signifikan? Sementara gereja yang mengkhotbahkan Injil dan Kristus yang benar, yang hidup di dalam kebenaran dengan sungguh.. tidak mengalami peningkatan di dalam jumlah jemaat?
Ini semua karena firman Allah itu benar. Apa hubungannya? Apakah firman Allah mendukung berbagai pengajaran palsu tersebut?
Keadaan manusia pada akhir zaman sudah tertulis di dalam firman Tuhan di 2 Timotius 3:1-5,
“Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu!”
Selain itu, banyak orang pada hari-hari ini lebih suka untuk mendengar therapeutic morality, yakni seperti pengajaran psikologi modern yang dibungkus dengan kebenaran firman Tuhan.
Contohnya. Siapa yang tidak suka mendengar khotbah dengan judul,
7 Langkah Mencapai Sukses, 7 Langkah Membangun Komunikasi yang Efektif, 7 Langkah Memimpin Keluarga Mencapai Keberhasilan?
Semua orang pasti suka untuk mendengarnya. Tetapi bagaimana bila judul khotbah yang disampaikan di dalam gereja adalah,
Bagaimana caranya untuk “menyalibkan” manusia lama kita? Bagaimana cara meninggalkan “kedagingan” kita? Bagaimana caranya membawa Kristus dan tanda-tanda kematian-Nya di dalam hidup kita?
Sekalipun judul khotbahnya mungkin tidak semenarik apa yang kita ingin dan harapkan, tetapi semuanya itu memiliki tujuan agar setiap kita tetap teguh berdiri di dalam masa yang sukar dan yang serba tidak pasti ini.
Ketiga. Gereja Tuhan dipanggil untuk membangun jemaat yang dikuatkan dalam hati, bersatu dalam kasih, dan juga penuh pengertian.
Di dalam Kolose 1:28-29, Paulus tidak digambarkan sebagai seorang pengkhotbah, guru, dan rasul.. tetapi sebagai seorang pendoa syafaat. Paulus rindu untuk mendorong setiap orang agar mau mengerti dan memahami, bagaimana caranya untuk dapat bergaul dengan Kristus secara pribadi.
Dan apa tanda / bukti dari jemaat yang dewasa dan kokoh di dalam Kristus?
Di dalam Ibadah Doa Malam yang diadakan di MDC Graha Pemulihan pada Tgl. 6 Agustus 2024, Pdt. Markus Simanjuntak membagikan,
Pertama. Jemaat mendapat penghiburan dari Kristus melalui kebenaran firman-Nya di dalam Alkitab. Kedua. Jemaat memberi perhatian dan juga kasih di dalam hidup sesama. Ketiga. Jemaat diperkaya di dalam hikmat dan juga pengertian. Keempat. Jemaat mendapat pencerahan akan rahasia Kristus di dalam firman-Nya.
“supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih, sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus,” (Kolose 2:2).
Keempat. Menjangkau tiap-tiap orang yang dianggap tidak layak atau tersingkir dengan Kabar Baik yakni Injil Kristus.
Di dalam Kolose 1:28, ditulis sebanyak tiga kali kata “tiap-tiap orang”. Berarti tiap-tiap orang perlu untuk mendengar Kabar Baik yakni Injil Kristus, bukan hanya sekumpulan orang saja. Gereja Tuhan perlu untuk membawa tiap-tiap orang kepada Kristus.
“Gereja bukanlah peninggalan kuno yang mencoba membenarkan dirinya dengan menarik kita kembali ke masa lalu atau tampil lebih progresif dari gerakan terbaru. Gereja adalah alat rekonsiliasi dan penyembuhan yang didukung oleh kehadiran Tuhan yang nyata di dunia.” (Paul D. Hanson, The Identity and Purpose of The Church).
Gereja bukanlah peninggalan kuno / barang antik yang mencoba membenarkan posisi dirinya dengan menarik orang-orang yang hadir di dalamnya dengan kembali ke nostalgic memori masa lalu, pada kejayaan atau zaman keemasan Yesus dua ribu tahun yang lalu, dan lalu kita hanya berhenti dan hidup di masa lalu saja.
Gereja Tuhan juga bukanlah komunitas / organisasi yang demi merasa dirinya harus lebih progresif lalu menerima begitu saja berbagai pengajaran Kristen Progresif, dan menerima semua pengajaran yang merendahkan dan bertentangan dengan kebenaran firman Allah, serta yang tidak Alkitabiah.
Sehingga pada akhirnya kita mulai berkompromi dengan pemberitaan Injil agar dapat diterima oleh golongan anak muda, dan kita menghadirkan Kristus dengan bermain aman dan yang “tidak mengancam” kehidupan mereka.
Ini bukanlah gereja. Gereja bukanlah masa lalu, tetapi sebagai alat rekonsiliasi / pemulihan dan alat penyembuhan dengan menghadirkan Kristus dan firman-Nya dengan nyata, di dalam setiap ibadah yang kita adakan. Dari mana kita tahu ada kehadiran Allah? Bukan dari kepulan asap ataupun yang membuat bulu kuduk kita berdiri.. tetapi ketika firman Tuhan dibagikan dan diperlihatkan dengan jelas kepada kita. Inilah cara kita menghadirkan Kristus di manapun kita berada, kita tetap berdiri teguh di dalam kebenaran firman-Nya dan hidup kita tidak mau digoyahkan.
Tujuan Pengajaran dan Peringatan.
“..untuk memimpin tiap-tiap orang kepada kesempurnaan dalam Kristus.” (Kolose 1:28b).
Paulus memanfaatkan kata kesempurnaan ini, karena orang-orang di sekitarnya pada saat itu mengejarnya dengan cara mempelajari berbagai filsafat Yunani maupun mengikuti berbagai ajaran leluhur dari bangsa Ibrani. Paulus memakai kata ini, tetapi dengan konsep yang berbeda.
Kesempurnaan / τέλειος (perfect, whole) atau teleos, adalah seseorang yang dianggap telah mencapai tujuan dan sasaran. Bahkan kata berdosa sendiri berasal dari bahasa Yunani diambil dari kata hamartia, atau missing the target / meleset dari sasaran.
Dalam konsep Yunani mengajar bahwa yang namanya kesempurnaan itu adalah seorang yang teleos, yang tidak bercacat, dan tidak bercela. Seseorang yang telah dianggap mencapai batas kemampuan, sudah sempurna dalam ilmu keagamaannya, seseorang yang sudah mencapai kecakapan maksimal, serta hebat dan sempurna di antara semua makhluk. Orang-orang di zaman itu mengejar konsep kesempurnaan seperti ini.
Bagaimana dengan filsafat Ibrani? Kata dasar sempurna itu ada dua yakni tām̂m dan shālēm.
Kata shālēm memiliki arti utuh, penuh secara jiwa, mental, rohani, dan jasmani.
Kata shālēm sendiri berasal dari dua akar kata yakni shin dan mem, di mana kata mem memiliki arti gambaran kandungan, seorang ibu yang sedang hamil, dan yang siap melahirkan hal material. Kata shin memiliki kobaran api, yang berkobar-kobar kerohaniannya, mewakili api roh, dan juga spiritualitas. Di tengahnya memakai kail huruf L / Lamet yang merupakan pengait, yang mempersatukan akar kata shin dan mem.
Pendidikan selama ini ada yang berfokus hanya pada kerohanian saja, ada pula yang berfokus hanya pada nilai akademis.. tetapi pendidikan shālēm / yang holistik harus dimulai terlebih dahulu dari hal rohani baru berakhir dengan jasmani.
Itulah sebabnya di sekolah MDC sebelum pelajaran dimulai, selalu diawali dengan devotion / berdoa dan merenungkan kebenaran firman Tuhan terlebih dahulu, yang dilakukan oleh guru dan juga anak-anak di dalam kelas.
Tidak berhenti hanya sampai menguatkan di dalam bidang kerohanian saja, sekolah MDC juga berjuang bersama dengan orang tua sebagai rekan partner untuk membuat anak-anak memiliki kemampuan nilai akademis yang baik, mempunyai kreativitas yang kuat, dan menjadi agent of change / seseorang yang membawa perubahan yang lebih baik lagi bagi lingkungan di sekitarnya.
Ketika kita hendak memulai segala sesuatu, jangan memulai dengan intelektual tetapi spiritual terlebih dahulu. Ini adalah konsep pendidikan shālēm.
Menurut filsafat Ibrani, kata dasar lainnya adalah Tām̂m, yakni kata yang digunakan untuk seseorang yang sepenuhnya berpaling kepada Allah, yang membuat dirinya sepenuhnya dapat berdedikasi pada Dia. Seorang yang sempurna menurut konsep Ibrani Biblika adalah seseorang yang memenuhi kehendak Allah secara total melalui ketaatan, dan atas semua peraturan di dalam komunitasnya.
“dan hendaklah kamu berpaut kepada TUHAN, Allah kita, dengan sepenuh hatimu dan dengan hidup menurut segala ketetapan-Nya dan dengan tetap mengikuti segala perintah-Nya seperti pada hari ini.” (1 Raja-raja 8:61).
“Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya.” (11:4).
“Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.” (Kejadian 6:9).
“Haruslah engkau hidup dengan tidak bercela di hadapan TUHAN, Allahmu.” (Ulangan 18:13).
Paulus mengatakan bahwa seorang yang sempurna adalah seseorang yang bertumbuh secara paripurna, yang matang, yang dewasa di dalam firman dan keintiman bersama Kristus melalui doa, penyembahan pribadi dan bersama jemaat.
Sarananya adalah dengan membaca firman Tuhan / Alkitab, berdoa, dan juga penyembahan yang karib bersama dengan-Nya. Tujuan akhirnya adalah agar kita dapat menjadi serupa seperti Kristus.
Jadi setiap kata “kesempurnaan” di dalam Perjanjian Baru (PB) berbicara tentang seseorang yang dewasa, yang matang, yang sudah melalui berbagai ujian tetapi memutuskan untuk tetap setia. Inilah tujuan dari apa yang diberitakan Paulus. Inilah tujuan mengapa gereja Tuhan dipanggil.
Sikap yang Diperlukan.
Tuhan Yesus menawarkan kesempurnaan-Nya pada setiap orang, baik laki-laki maupun perempuan.
“Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku.” (Kolose 1:29).
Paulus menulis ayat di atas sebagai sikapnya, sebagai sebuah tujuan yang digambarkan dan didukung dengan sikap yang harus kita miliki. Sebab attitude kita akan menentukan bagaimana altitude kita nantinya. Sikap kita akan menentukan apakah hidup kita dapat dibawa Tuhan untuk terus naik ke atas, atau justru malah merosot.
Hati-hati dengan sikap kita selama ini, bila kita mau melihat tujuan Allah dapat tercapai dan digenapi di dalam hidup. Untuk itu diperlukan dua hal yakni hasrat yang kuat, yaitu mau bekerja keras, dan spirit / semangat yang mau untuk terus berjuang.
Paulus memakai kata kopiao dan agonizomai, yang merupakan dua kata yang dipakai dalam pertandingan atletik. Setiap atlet yang mau bertanding harus memiliki dua semangat ini.
Yang pertama, kopiao, adalah spirit yang di mana kita harus bekerja keras. Contohnya, Michael Phelps, the true legend of olympics / legenda sejati dari pertandingan di dalam olimpiade. Dirinya memiliki impian bahwa pada suatu hari kelak akan menjadi raja dari olahraga renang di olimpiade. Lalu apa yang dirinya lakukan selanjutnya? Saat semuanya masih tertidur lelap, dia sudah berada di dalam kolam renang untuk berlatih dengan keras.
Ketika Pdt. Markus berada di Medan, dirinya mendapat cerita tentang seseorang yang bernama Elfira Rosa Nasution dan juga adik-adiknya yang merupakan “raja dan ratu” yang menuai banyak prestasi di berbagai kejuaraan renang, baik di tingkat nasional maupun regional pada masanya masing-masing. Bagaimana cara yang harus mereka tempuh, untuk dapat mencapai semuanya itu?
Dari jam tiga sampai setengah empat pagi, Radja Mursinal Nasution ayahnya yang juga merupakan pelatih nasional renang Indonesia, sudah menanti anak-anaknya di dalam kolam renang untuk melatih mereka. Sementara yang lain masih tertidur pulas, mereka harus menahan rasa dingin di pagi hari, di dalam kolam renang untuk berlatih dengan keras sampai jam enam pagi mereka harus berlari untuk pergi ke sekolah. Hal ini setiap hari rutin dilakukan, tidak hanya karena mau ada Pekan Olahraga Nasional (PON) saja.
Dan pada saat PON, Pdt. Markus mendapat kesempatan untuk bertanya pada Elfira dan adiknya yang pada saat itu sedang bertanding, seberapa banyak effort / usaha yang sudah mereka berikan selama ini? Mereka menjawab sedari kecil, mereka sudah dikarantina untuk dapat masuk ke dalam kolam renang, dan dilatih dengan keras.
Di Belanda sendiri, pada saat itu ada Hoki yang merupakan olahraga permainan yang dilakukan pria dan perempuan dengan menggunakan alat pemukul (stick) dan bola. Bentuk permainannya hampir sama dengan sepak bola.
Pdt. Markus memiliki kesempatan untuk berkata pada pelatihnya dan menunjukkan bahwa anak-anak begitu komitmen untuk berlatih bermain Hoki di setiap sore hari. Dan pelatihnya berkata bahwa untuk anak-anak dapat masuk ke dalam klub Hoki, sebelum lahir mereka sudah didaftarkan terlebih dahulu oleh kedua orang tuanya.
Sama seperti tim olahraga sepak bola di Belanda, anak-anak sudah dilatih dengan keras sedari kecil dan orang tuanya harus menemani mereka berlatih bahkan sampai ada yang pindah kota, dan tidak bisa beribadah di hari Minggu.
Kerja keras yang mereka berikan tidaklah murah, dan bukan sekadar usaha kaleng-kaleng. Orang tua sudah memiliki komitmen pada anak-anak, justru pada saat mereka masih berada di dalam kandungan. Dan inilah kata yang Paulus pakai yakni, hasrat dan kerja keras, dan juga komitmen. Bukankah firman Tuhan juga berkata pada setiap kita di dalam kitab Yeremia,
“Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” (Yeremia 1:5).
Tetapi tidak cukup hanya dengan kita menerima janji dan berkat dari Tuhan saja, dan setelah itu tidak ada lagi effort / usaha yang kita lakukan.
Sikap yang perlu untuk kita lakukan adalah,
Bersedia bekerja keras, bersedia berjuang sampai garis akhir, dan tetap bersandar pada kuasa-Nya.
“Tetapi karena anugerah Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan anugerah yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi bukan aku, melainkan anugerah Allah yang menyertai aku.” (1 Korintus 15:10, Terjemahan Baru Edisi 2).
Kita mendapati ada kata “anugerah Allah” yang diucapkan sebanyak tiga kali dan ada kata “bekerja keras” di ayat di atas.
Tetapi di dalam hyper grace, yang merupakan pengajaran yang menekankan kasih karunia yang berlebihan atau overdosis, di mana pengajaran ini menekankan kasih karunia Allah namun mengesampingkan ajaran penting lainnya seperti pertobatan dan pengakuan dosa.. pengajaran ini mengatakan kalau sudah ada anugerah Allah maka kita tidak perlu lagi bekerja lebih keras, tidak perlu lagi upaya pengudusan diri, tidak perlu berkorban, tidak perlu mengamalkan kesalehan, tidak perlu melewati sengsara demi sengsara, karena merasa kita sudah mendapat anugerah-Nya yang besar.
Tetapi ayat di atas yang menuliskan “anugerah Allah” bukanlah alasan bagi kita untuk tidak mau bekerja keras, dan berubah menjadi lebih baik lagi. Tetaplah bekerja keras, dan jangan pernah sia-siakan anugerah Allah, sama seperti yang telah diteladankan melalui kehidupan Paulus. Capailah dan kerjakan keselamatan kita dengan maksimal.
Talenta yang diberikan Tuhan di dalam hidup kita juga harus berkembang. Dua harus bertambah menjadi empat, lima harus bertambah menjadi sepuluh. Dan apakah upahnya?
“Maka kata Tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba-Ku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, Aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan Tuanmu.” (Matius 25:23).
Kesetiaan dan kebaikan di mata Tuhan berbicara tentang adanya optimilisasi / proses untuk kita dapat mengoptimalkan sesuatu, dengan kata lain proses untuk menjadikan sesuatu menjadi paling baik atau paling tinggi.
Karena itu capailah yang maksimal, teruslah berjuang untuk memberikan yang terbaik.. karena semakin kita berjuang dengan hasrat yang besar untuk mencapai kedewasaan, maka semakin besar kuasa Allah dapat dinyatakan lebih lagi di dalam hidup kita. Ketika kita merasa sudah di akhir batas dari kekuatan kita, dan kita sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan.. Tuhan akan memberi anugerah-Nya dan mengangkat kita kembali.
“Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” (2 Korintus 12:9).
Sehingga pada akhirnya kita dapat mengatakan bahwa bila bukan anugerah-Nya yang selama ini memampukan hidup kita, maka hal ini tidak mungkin dapat terjadi. Segala kemuliaan hanya kembali hanya bagi Dia, bukan bagi kita.
Apa yang harus kita lakukan?
Pertama. Terimalah kenyataan, bahwa kedewasaan itu adalah tanggung jawab setiap kita.
Jangan pernah menyalahkan gereja, ataupun ketua Contact kita, jangan pernah berharap kita memiliki good support system. Kita tidak boleh mengandalkan semuanya ini, karena pada suatu hari nanti kita akan menyadari bahwa hal yang terpenting dan sangat berharga di dalam hidup kita hanyalah Tuhan Yesus dan firman-Nya.
Pada suatu hari putri dari Pdt. Markus diberikan anugerah oleh Tuhan untuk dapat berada di Los Angeles. Dan ketika mencari gereja untuk tempat beribadah, dirinya tidak menemukan satupun gereja yang mengajarkan firman Allah dengan begitu dalam. Hal ini dikarenakan ketika putri dari Pdt. Markus masih bersekolah di SMA, dirinya terbiasa hidup di tengah lingkungan Bible Study.
Saat itu putri dari Pdt. Markus ingin membeli sebuah alkitab yang seharga 50 dollar. Karena merasa terlalu mahal harganya, Pdt. Markus mengatakan bila putrinya tidak keberatan, dirinya akan memberi semua digital library / perpustakaan elektronik berbagai versi Alkitab, yang selama ini dimilikinya. Putrinya menangis dan mengatakan bahwa hal itu adalah sebuah treasure / harta yang sangat berharga, yakni firman Allah bukan transfer uang dollar yang begitu banyak.
Dan putrinya pada akhirnya memutuskan untuk beribadah dan melayani menjadi pemimpin pujian di gereja MDC di Los Angeles, yang digembalakan oleh Pdt. Hadiarso Adi. Padahal jarak untuk menempuh ke gereja ini jauhnya selama satu jam lebih, dan membutuhkan biaya sebanyak 60 dollar. Tetapi putrinya berkata bahwa its worth it / layak untuk dilakukan, karena dirinya sekarang bisa beribadah dan melayani Tuhan di tempat di mana Pdt. Markus pernah melayani.
Putrinya Pdt. Markus dapat meneruskan lebih jauh, yakni melayani Tuhan, melebihi dari apa yang telah dibangun olehnya selama ini. Dan ini adalah tujuannya ketika kita mendidik anak-anak kita, ketika kita memelihara dan mengajak anak-anak kita untuk tetap bertekun di dalam doa dan juga setia di dalam pembacaan firman-Nya. Di manapun anak-anak kita berada, mereka tetap setia pada Tuhan Yesus dan tetap melayani-Nya.
Kedua. Kerahkan segenap resources / kemampuan sesuai dengan kekuatan Allah yang bekerja di dalam hidup kita untuk berjuang dan mencapai tujuan iman yakni, kita dapat mencapai kedewasaan di dalam Tuhan. Jangan malas.
Gereja Tuhan harus menjadi pohon, bukan seperti sekam. Sebab sekam dengan bulir gandum, tampak luar dan sekilas memang tidak ada bedanya. Sama-sama memiliki kulit, kering, dan warnanya pun sama. Tetapi dari mana kita tahu perbedaan di antara bulir gandum dan sekam?
Di masa Perjanjian Lama (PL), para petani mengumpulkan bersama kering gandum dan sekam, lalu memakai alat seperti garpu besar dan melemparkan bukir gandum dan sekam bersama-sama ke atas. Sekam yang kering dan tidak ada isinya akan diterbangkan angin, tetapi bulir gandum yang ada isinya jatuh ke bawah.
Murid-murid Kristus yang selama ini terus setia di dalam membangun kedalaman relasi bersama-Nya, dewasa secara rohani dan memiliki pengenalan Kristus yang benar, tidak hanya mementingkan apa yang tampak luar.. pada waktu diizinkan ada masa penampian, pada waktu hari penghakiman, di mana bukan tentang penghakiman setelah Tuhan Yesus datang kedua kalinya saja..
Tetapi ketika kita diizinkan mendengar vonis dokter, bahwa kita menderita penyakit seperti kanker stadium empat, kanker darah yang tidak ada obatnya, harus melewati banyak pemeriksaan dan tindakan medis.. atau mungkin kita dipanggil bagian Human Resource Development (HRD) / bagian manajemen sumber daya manusia yang mengatakan bahwa bulan depan kita sudah tidak usah bekerja lagi.. atau mungkin kita mendengar bahwa properti kita harus disita..
Dan juga berbagai peristiwa lainnya yang tidak pernah kita harap dan bayangkan sebelumnya.. ini adalah “hari penghakiman” kita.
Harinya akan datang, tetapi yang menjadi pertanyaannya adalah..
Apakah kita akan menjadi sekam, yang segera hilang diterbangkan angin? Kita menjadi kecewa dan tidak mau lagi mengiring Tuhan Yesus? Atau kita mau menjadi seperti bulir gandum, apa pun yang diizinkan-Nya terjadi, kita tetap setia dan tertanam di dalam relasi yang karib bersama Kristus?
Keputusan kembali pada setiap kita untuk tetap setia dan terus berjuang, untuk pada akhirnya kita dapat menjadi dewasa di dalam Kristus.
Pesan Tuhan bagi gereja-Nya.
Ada roh yang saat ini bekerja di dalam dunia yakni, roh performance oriented. Roh yang hanya berfokus dan memamerkan apa yang tampak luar saja, baik itu kesalehan, validasi pencapaian dan berbagai prestasi, dan orang-orang bisa merekayasa semuanya itu tanpa perlu bekerja keras.
Berhati-hatilah dengan roh seperti ini yang datang di dalam gereja Tuhan, sebab banyak orang yang kagum dengan bentuk luar kita, tetapi tidak memiliki kedalaman relasi dengan-Nya, tidak ada akar yang kokoh yang dibangun di dalam-Nya. Dan akan ada waktu-waktu di mana “masa penampian” itu akan mulai terjadi.
Dan kita akan melihat ada perbedaan di antara anak-anak yang memiliki dasar yang kokoh di dalam relasi yang karib di dalam doa dan pembacaan firman-Nya, dengan anak-anak yang hanya berfokus pada penampilan luar saja.. ketika ada masa penampian, mereka akan hilang lenyap.
Sewaktu kita mengatakan mau mengubah cara berpikir kita, mengubah cara, sikap, dan tindakan, mau percaya bahwa kita adalah bagian dari gereja di komunitas lokal.. ketika masa penampian itu datang, kita akan melihat bahwa diri kita akan tetap kokoh, tidak akan pernah kembali pada dunia, dan tetap mengatakan bahwa..
Sungguh Yesus Kristus adalah satu-satunya Tuhan dan Raja di dalam hidupku.
Bagi rekan pengusaha. Hari-hari ini bisa jadi hidup kita akan diizinkan mengalami keadaan sulit dan tertekan, ke depan bisa jadi akan lebih suram, bahkan beberapa pintu diizinkan tertutup.. tetapi kuatkan dan tetap teguhkan hati kita. Karena masa penampian itu memang harus datang, tetapi bagi kita yang hidup di dalam kebenaran firman-Nya akan tetap segar, dan bertindak.
“tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” (Yesaya 40:31).
“..tetapi umat yang mengenal Allahnya akan tetap kuat dan akan bertindak.” (Daniel 11:32).
Sebab Tuhan adalah tempat perlindungan kita, Dia yang akan berdiri membela kita.
“Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku? Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi. Ia takkan membiarkan kakimu goyah, Penjagamu tidak akan terlelap. Sesungguhnya tidak terlelap dan tidak tertidur Penjaga Israel. Tuhanlah Penjagamu, Tuhanlah naunganmu di sebelah tangan kananmu.” (Mazmur 121:1-5).
Larilah ke rumah Tuhan, maka kita akan mendapat pertolongan, nasihat, dan hikmat Tuhan yang kekal.
“Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung rumah TUHAN akan berdiri tegak mengatasi gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; bangsa-bangsa akan berduyun-duyun ke sana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: “Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran, dan firman TUHAN dari Yerusalem.”” (Mikha 4:1-2).
Kesimpulan dari sisi penggembalaan, oleh Pdt. Andreas Rahardjo.
Pertama. Di dalam setiap diri umat Tuhan harus menyadari ada harta yang sangat berharga, yang tidak bisa dibeli oleh apa pun di dalam dunia ini.
Yaitu Yesus Kristus, Harta yang paling mahal dari segala yang dapat dimiliki manusia di dalam dunia ini.
Kedua. Tetapi untuk mewujudkan Kristus sampai ke dalam kedewasaan iman, kita perlu bekerja keras.
Bisa jadi kekuatan pukulan golf Pdt. Andreas berbeda dengan pada saat masih usia muda dulu, tetapi untuk hal rohani, apa yang kita terus bangun dan kembangkan mengenai kedewasaan iman, hal itu tidak akan pernah sirna. Bahkan kedewasaan iman kita di dalam Kristus akan terus-menerus bertambah, beriringan dengan bertambahnya usia kita di dalam dunia ini. Kristus akan semakin dinyatakan di dalam hidup kita, dan hal ini memerlukan kerja keras.
Ketiga. Bersama-sama dengan seluruh saudara seiman kita menjadi gereja ekklesia / yang dipanggil keluar dari kegelapan menuju Terang Kristus, dan bersama dengan saudara seiman, di sanalah kita akan selalu dimampukan untuk dapat menghadirkan Kristus di tengah dunia yang gelap. Itulah sebabnya firman Tuhan berkata,
“Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!” (Kolose 1:27).
Tuhan ingin menyatakan kemuliaan-Nya di dalam dunia ini dengan cara kita bekerja keras untuk membangun dan terus mengembangkan agar kita dapat menjadi dewasa secara rohani, Kristus semakin bertambah, dan kita semakin berkurang (Yohanes 3:30).
Kita semakin bertumbuh serupa menjadi seperti Kristus di dalam segala hal, baik di dalam perkataan, pikiran, dan juga di dalam hal lainnya. Bersama komunitas orang percaya, kita menghadirkan Kristus bersama-sama, terus dimampukan oleh anugerah-Nya untuk dapat menjadi terang dan garam bagi dunia ini.
“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:13-16).
Amin. Tuhan Yesus memberkati..
ความคิดเห็น