top of page

Jason Foo & Betuel Himawan - Mata Kami Tertuju Pada-Mu Tuhan!

  • mdcsbysystem
  • 28 Mei 2023
  • 7 menit membaca

Catatan Khotbah: “Mata Kami Tertuju Pada-Mu Tuhan!” Ditulis dari sharing Ps. Jason Foo dan Ps. Betuel Himawan, di Ibadah Doa Malam pada Tgl. 16 Mei 2023..


Ayat Bacaan: 2 Tawarikh 20:1-12.


Ada tiga kekuatan militer besar yang sedang bergabung untuk menyerang Raja Yosafat dan juga bangsa Israel. Mereka adalah orang-orang dari bani Amon, Moab, dan juga dari pegunungan Seir. Ketika raja Yosafat mendengar hal tersebut, dirinya menjadi takut tetapi firman Tuhan lebih lanjut mengatakan pada kita,


“..lalu mengambil keputusan untuk mencari TUHAN. Ia menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa.” (ayat 3).

Sekalipun Yosafat mengalami ketakutan, tetapi dirinya tidak mengizinkan ketakutan itu melumpuhkan hidupnya sehingga menjadi putus asa dan tidak berdaya. Ketakutan yang dialami Yosafat telah memotivasi dirinya untuk tetap melakukan hal yang benar yakni,


Mengumpulkan dan menyatukan penduduk Yehuda dan Yerusalem untuk bersama-sama mereka bersatu mencari Tuhan, berpuasa, berdoa, memuji dan menyembah-Nya.


Dan melalui doa yang dinaikkannya di ayat 6-12, kita dapat belajar kedalaman doa Yosafat,


Pertama. Yosua mengakui Tuhan sebagai Tuhan nenek moyang mereka yang masih memerintah atas semua bangsa di bumi ini. Yosafat mengakui hanya Dia yang sanggup untuk menolong dirinya dan juga kerajaannya. Tidak ada yang mampu mengalahkan-Nya. Dia tak terkalahkan.


"Ya TUHAN, Allah nenek moyang kami, bukankah Engkau Allah di dalam sorga? Bukankah Engkau memerintah atas segenap kerajaan bangsa? Kuasa dan keperkasaan ada di dalam tangan-Mu, sehingga tidak ada orang yang dapat bertahan melawan Engkau.” (ayat 6).


Selain itu, kita juga harus belajar mengubah mindset / pola pikir kita. Tuhan bukanlah Tuhan yang suka nge-block setiap permasalahan yang ada, tetapi Dia mengizinkannya tetap ada agar kita dapat mengubah perspektif / sudut pandang kita dan terus mempercayai, Dia itu masih jauh lebih besar dari setiap permasalahan yang sedang kita hadapi. Selalu sadari siapa pribadi Tuhan yang sesungguhnya. Ketika memberi pujian dan kemuliaan hanya bagi-Nya, sikap hati kita juga dimampukan untuk dapat mengenal lebih dalam siapa jati diri-Nya di hidup kita.


Kedua. Raja Yosafat melalui doa-doanya juga mengingatkan Allah atas ikat janji / covenant yang pernah Dia buat dengan Abraham.


“Bukankah Engkau Allah kami yang menghalau penduduk tanah ini dari depan umat-Mu Israel, dan memberikannya kepada keturunan Abraham, sahabat-Mu itu, untuk selama-lamanya? Lalu mereka mendiami tanah itu, dan mendirikan bagi-Mu tempat kudus untuk nama-Mu.” (ayat 7-8).


Melalui doa yang dinaikkan Yosafat, dirinya juga menaikkan ucapan syukur atas segala kebaikan yang sudah diperbuat-Nya. Sering kali kita mengeluhkan berbagai permasalahan kita pada-Nya. Tidak salah, karena Dia masih mau mendengar dan menjawab setiap beban pergumulan kita sesuai dengan waktu-Nya yang terbaik. Tetapi Dia itu tahu setiap masalah kita. Milikilah perspektif / sudut pandang yang benar di dalam doa-doa yang kita naikkan.


Perjanjian Allah dengan Abraham adalah,


"Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." (Kejadian 12:1-3).


Ketiga. Di saat ada bahaya dan ancaman, Yosafat tetap mengingat Tuhan. Yosafat mau mengakui bahwa mereka lemah untuk melawan musuh, dan mencari pertolongan Tuhan yang berdaulat untuk membantu mereka dalam melawan musuh-musuh yang menghadang.


“Ya Allah kami, tidakkah Engkau akan menghukum mereka? Karena kami tidak mempunyai kekuatan untuk menghadapi laskar yang besar ini, yang datang menyerang kami. Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu." (ayat 12).


Yosafat tetap melakukan hal yang benar. Sekali pun dirinya dan juga bangsanya dalam keadaan terdesak, mata mereka tetap tertuju pada Tuhan, bukan yang lain. Sering kali ketika hidup kita diizinkan untuk menghadapi banyak masalah, pandangan mata kita hanya tertuju pada besarnya masalah, dan menutupi kenyataan bahwa Allah yang kita sembah masih jauh lebih besar dari setiap masalah yang sedang dihadapi. Seberat apa pun masalah yang sedang kita hadapi, Dia masih tetap duduk di atas takhta-Nya, dan tidak ada satu pun yang terjadi di dalam dunia ini tanpa sepengetahuan diri-Nya.


Allah yang Berperang bagi kita.


Kita punya Tuhan yang mendengar dan yang masih sanggup untuk menjawab setiap permohonan doa. Dia tidak tuli. Dia suka kalau anak-anakNya menaikkan permohonan doa, dan Dia menjawabnya. Dia sangat murah hati.


Tuhan mendengar seruan doa yang dinaikkan dengan tulus hati oleh raja Yosafat. Tuhan menjawab doa tersebut dengan janji dan jaminan yang tertulis di dalam firman,


"Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah. Besok haruslah kamu turun menyerang mereka. Mereka akan mendaki pendakian Zis, dan kamu akan mendapati mereka di ujung lembah, di muka padang gurun Yeruel. Dalam peperangan ini tidak usah kamu bertempur. Hai Yehuda dan Yerusalem, tinggallah berdiri di tempatmu, dan lihatlah bagaimana TUHAN memberikan kemenangan kepadamu. Janganlah kamu takut dan terkejut. Majulah besok menghadapi mereka, TUHAN akan menyertai kamu." (2 Tawarikh 20:15-17).


Dan Allah menjawab doa mereka dengan,


“Ketika mereka mulai bersorak-sorai dan menyanyikan nyanyian pujian, dibuat Tuhanlah penghadangan terhadap bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir, yang hendak menyerang Yehuda, sehingga mereka terpukul kalah. Lalu bani Amon dan Moab berdiri menentang penduduk pegunungan Seir hendak menumpas dan memunahkan mereka. Segera sesudah mereka membinasakan penduduk Seir, mereka saling bunuh-membunuh. Ketika orang Yehuda tiba di tempat peninjauan di padang gurun, mereka menengok ke tempat laskar itu. Tampaklah semua telah menjadi bangkai berhantaran di tanah, tidak ada yang terluput.” (ayat 22-24).


Waktu Allah Menjawab Doa.


Janji-Nya bagi Abraham dan kita keturunannya adalah,


“Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." (Kejadian 12:3).


Kalau kita memiliki masalah, Dia pasti yang akan menjaga dan tetap menghargai ikat janji / covenant-Nya. Pertempuran menjadi milik Tuhan, Dia yang akan bertempur bagi kita. Di masa sulit, selalu ada penghiburan. Lihat dan perhatikan, keselamatan dari-Nya akan datang. Beri ruang bagi Allah untuk bekerja dalam hidup kita.


Ketika bangsa Israel keluar dari Mesir, di belakang mereka terdapat,


“Adapun orang Mesir, segala kuda dan kereta Firaun, orang-orang berkuda dan pasukannya, mengejar mereka dan mencapai mereka pada waktu mereka berkemah di tepi laut, dekat Pi-Hahirot di depan Baal-Zefon.” (Keluaran 14:9).


Di belakang mereka ada pasukan Firaun mengejar, di depan mereka terhampar luas Laut Merah. Mereka tidak memiliki jalan keluar. Hal yang sama pula pada waktu kita menghadapi jalan buntu, tak tahu lagi harus ke mana, tak ada jalan keluar.. arahkan mata kita dan pandanglah Allah. Dia akan menyelamatkan kita. Cara Dia bekerja itu sungguhlah mengagumkan dalam menolong Yosafat dan bangsanya,


Tuhan mengatur penyergapan untuk laskar besar dari Moab, Amon, dan gunung Seir (2 Tawarikh 20:22), dan menyebabkan kebingungan di antara mereka. Orang Moab dan Amon berperang melawan orang-orang di gunung Seir, membunuh dan menghancurkan mereka. Lalu orang Moab dan Amon saling membunuh sampai semuanya mati (ayat 23). Dan akhirnya laskar yang sangat banyak itu musnah, karena Allah yang berperang bagi Yosafat dan Yehuda (ayat 24).


Kalau kita bertempur dengan hikmat dan kekuatan kita sendiri, kita bisa kalah. Tetapi apa pun permasalahan yang sedang kita hadapi, Tuhan bisa membuat masalah yang tampak besar itu menjadi musnah, sama seperti yang dialami Yosafat dan kerajaannya, dan kita bisa belajar banyak dari permasalahan tersebut.


Aplikasi Firman di saat kita mengalami krisis dan bahaya, sama seperti yang dialami Yosafat.


Pertama. Apapun permasalahan yang sedang diizinkan untuk kita hadapi.. Jangan Resah.


“Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.” (Amsal 24:10).

“Jangan menjadi marah (atau resah) karena orang yang berbuat jahat, jangan iri kepada orang fasik.” (ayat 19).

Jangan menjadi bingung, dan belajarlah untuk tetap tenang. Kita masih punya Allah yang sanggup untuk menolong hidup kita. Jangan melihat besarnya masalah, tetapi lihatlah Tuhan yang besar, dan melalui masalah tersebut iman kita akan dilatih untuk menjadi besar. Dia masih sanggup untuk menolong hidup kita.


Kedua. Kumpulkan dan satukan jemaat di dalam doa, pujian, dan penyembahan kepada Allah.


“dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.” (2 Tawarikh 7:14).


Akuilah bahwa Dia masih jauh lebih besar dari setiap permasalahan yang sedang kita hadapi. Dengan merendahkan diri, berdoa, mencari wajah-Nya, dan berbalik dari jalan-jalan kita yang jahat.. maka Dia akan mendengar dari sorga, mengampuni setiap dosa, menyembuhkan, dan memulihkan negeri kita. Ketika berdoa, selalu harapkan terjadi mukjizat. Kalau kita berdoa, kita harus yakin bahwa Dia sanggup menolong.


Ketiga. Ingatlah kita adalah umat perjanjian-Nya.


“Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!"” (1 Korintus 11:25).


Keempat. Percayalah bahwa Allah akan berperang gantikan kita.


“dan berseru: "Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah.”” (2 Tawarikh 20:15).


Kelima. Harapkan mukjizat saat kita sedang kewalahan.


“TUHAN akan membiarkan musuhmu yang maju berperang melawan engkau, terpukul kalah olehmu. Bersatu jalan mereka akan menyerangi engkau, tetapi bertujuh jalan mereka akan lari dari depanmu.” (Ulangan 28:7).


Ketika Yosafat berkata,


“..Kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan, tetapi mata kami tertuju kepada-Mu." (2 Tawarikh 20:12).

Dirinya sedang berharap untuk mendapatkan mukjizat dan pertolongan dari Tuhan.


Kita bisa saja membaca banyak buku tentang doa, menulis banyak buku tentangnya.. tetapi bila kita tidak mempraktikkannya, maka kita akan kehilangan kesempatan untuk belajar dari doa, mendapat berkat, pertolongan, dan juga mukjizat-Nya. Yosafat tidak mengizinkan ketakutan yang ada melumpuhkan imannya, justru dia membalikkan dan tetap mengarahkan iman kepercayaannya hanya pada Allah.


Terkadang tanpa disadari, kita berlaku sama seperti teman-temannya Ayub yang selalu berkata negatif dan tidak membangkitkan iman dan juga kekuatan. Tetapi marilah turn to God / berbalik pada Allah dengan bersungguh hati. Bergumullah selalu dengan-Nya. Apa yang Dia perkatakan bagi kita yang sesuai dengan firman-Nya, jauh lebih penting dari perkataan sesama yang melemahkan iman.


Apa pun permasalahan yang sedang kita hadapi, tetap tujukan mata kita hanya kepada-Nya dan jangan biarkan masalah tersebut membuat kita kewalahan dan melumpuhkan iman dan pengharapan kita. Segala sesuatu bersama dengan-Nya masih mungkin dapat terjadi.


Biarlah kisah Yosafat ini dapat membangkitkan iman, dan kita memiliki perspektif / sudut pandang yang baru tentang Pribadi Allah. Dia masih sanggup menolong hidup kita. Setiap permasalahan yang diizinkan-Nya terjadi justru dapat membawa kita semakin dekat dan mengenal lebih dalam pribadi-Nya. Bagi lainnya mungkin terlihat mustahil tetapi,


“Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil." (Lukas 1:37).


Amin. Tuhan Yesus memberkati..

Comments


GKPB Masa Depan Cerah Surabaya

©2025 by GKPB Masa Depan Cerah Surabaya

bottom of page